Marketeers@marketeers

Official Instagram of Indonesia's #1 Marketing Media & MICE
📩: [email protected]

https://www.youtube.com/marketeers

Dalam menyusun 100 Ide Sales Promotion ini, selain memberikan panduan singkat dalam melakukan sales promotion, Marketeers juga mewawancarai para pemain di berbagai sektor untuk mengetahui strategi dan trik apa yang mereka lakukan ketika melakukan sales promotion.

Silakan menentukan dan memilih mana yang paling pas bagi merek Anda. Selamat memanjakan konsumen Anda.

#100IdeSales


5

Bapak pemasaran dunia, Philip Kotler pernah memprediksi, perbandingan advertising dan sales promotion pada tahun 1988 adalah 60:40. Namun, pada tahun 1997, Kotler melihat porsi sales promotion terus tumbuh, bahkan mencapai 65%-75% khususnya untuk perusahaan consumer goods.

Tentunya ada berbagai alasan mengapa banyak brand menggunakan sales promotion. Antara lain untuk memecah kebuntuan dalam pasar, membulatkan keputusan pembelian, meningkatkan penjualan untuk jangka pendek, pengalihan bujet iklan, mencuri perhatian konsumen yang ingin beralih ke produk kompetitor, meraih konsumen baru, menjaga hubungan dengan konsumen, serta berbagai alasan lain. Bahkan, ada pendapat yang mengatakan memberikan sales promotion kepada konsumen jauh lebih efektif dalam peningkatan penjualan ketimbang memberikan diskon kepada retailer.

Apakah Anda sudah menerapkan 100 Ide Sales Promotion yang sudah kami berikan? Berikan komentar Anda bagaimana pemanfaatan dan dampak dari sales promotion pada usaha Anda.

#100IdeSales


3

Garansi Apabila Rusak.

Seperti halnya undian, warranty hampir menjadi syarat lakunya sebuah produk. Dengan warranty, konsumen berhak mendapatkan perbaikan barang bila rusak atau mendapatkan item baru dengan alasan produk yang ia beli cacat, rusak, atau tidak lengkap. Tentunya, ini berlaku dalam masa tertentu.
Dalam konteks ini, konsumen pasti akan lebih memilih produk yang bergaransi tetapi harganya sedikit lebih mahal ketimbang produk yang sama yang menawarkan harga murah tapi tak bergaransi. Misalnya, AC Sharp berani memberikan garansi atas kompresor selama sepuluh tahun.

#100IdeSales


0

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-73.

Waspada terhadap ancaman yang terlihat maupun tidak terlihat dan patriotisme dalam mengisi kemerdekaan merupakan dua sikap yang perlu ditanamkan dalam diri kita masing-masing sebagai bangsa Indonesia.

Foto: Indonesia Zaman Doeloe


1

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-73.

Gotong royong menjadi satu sikap yang perlu diangkat kembali ke dalam diri kita secara kolektif. Dengan penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta – Palembang, mari sukseskan acara tersebut dengan memperlihatkan gotong royong kita sebagai satu kesatuan bangsa.

Foto: Wikipedia


0

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-73.

Integritas merupakan modal utama dalam berkarya memajukan bangsa. Sekali Anda tidak jujur, akan sulit dipercaya oleh orang lain. Hal ini lah yang perlu kita contoh dari Bung Hatta.

Foto: Kompasiana


0

Jangan Biarkan Mereka Berkata “Boo”! Pernahkah Anda merasa sangat marah dengan sebuah brand, entah karena produk, pelayanan, atau hal lain, sampai-sampai Anda “mengamuk” di depan umum? Mungkin agak mempermalukan diri Anda di depan orang-orang. Lalu, Anda mulai menyumpahi semoga brand-nya bangkrut, cepat tutup, dan macam-macam. Secepat kilat Anda langsung mengambil smartphone dan mulai mengadukan pengalaman buruk ini ke social media. Protes keras pokoknya. Jangan sampai kejadian dengan brand Anda, ya!

Anda juga perlu menyadari bahwa proses recovery dari customer yang sangat kecewa itu sangat mahal. Dan, terlebih lagi, mereka bisa dengan mudahnya memengaruhi customer Anda yang lain. Anda kehilangan bukan cuma customer yang kecewa, tetapi juga customer yang terpengaruh.


2

Pola pembelian customer dulunya sangat sederhana: Aware, Attitude, Act, dan Act Again. Orang kenal, suka, lantas beli, dan beli lagi. Disebut proses 4A. Proses ini sangat individual. Maklum, dulu konektivitas tidak sehebat sekarang.
Pada dasarnya, ada 3 perubahan besar dari 4A menjadi 5A.

Dulu, customer memutuskan sendiri attitude terhadap brand. Pada dasarnya, pilihannya cuma suka atau tidak. Sekarang, proses attitude terpecah menjadi 2 bagian: appeal dan ask. Artinya, jika customer tertarik, mereka terlebih dahulu bertanya-tanya sebelum menyatakan suka atau tidak.

Dulu, loyalitas biasanya dilihat dari pembelian kembali. Jika customer membeli sebuah brand lebih dari sekali, biasanya dianggap lebih loyal terhadap brand tersebut. Ini tetap ada benarnya. Tapi sekarang, loyalitas tertinggi dilihat dari keaktifan merekomendasi sebauah brand.

Sekarang, ada konektivitas ask-advocate antara customer yang bertanya dengan customer yang menjawab dengan rekomendasi. Konektivitas ini tidak seimbang. Sering kali lebih banyak yang bertanya ketimbang yang merekomendasikan sebuah brand. Konektivitas ini tentu saja bisa berbuah bagus (jika brand direkomendasikan positif) dan jelek (jika brand direkomendasikan negatif). Proses 5A yang lebih sosial ini mempunyai implikasi besar terhadap cara kerja pemasar. Pendekatan vertical, misalnya dengan beriklan, yang biasanya dominan harus dilengkapi dengan pendekatan horizontal, misalnya dengan social media.


7

Inilah the F-Factor! Family, Friends, Fans, Followers.

Semua komunitas F ini lebih dipercaya ketimbang brand. Sejak beberapa tahun yang lalu, riset MarkPlus selalu menunjukan bahwa 9 dari 10 orang lebih percaya rekomendasi orang lain ketimbang klaim yang dibuat oleh brand.

Nah, apakah sekarang positioning masih relevan?

Masih, tapi perlu dikombinasikan dengan confirmation dan clarification. Positioning perlu untuk menciptakan appeal. Tapi, pemasar juga perlu mendapat konfirmasi dari komunitas. Caranya? Klarifikasi karakter brand Anda. Jadi, ketika calon customer bertanya pada komunitasnya, komunitasnya akan mendukung brand Anda.


2

Seperti Majalah Marketeers.

Teknologi baru senantiasa memberikan new experience bagi konsumen zaman now. Salah duanya adalah Virtual Reality dan Augmented Reality. Banyak brand saat ini memanfaatkan kedua teknologi tersebut dalam rangka memperkenalkan produk baru yang harapannya berujung pada pembelian.
Peritel IKEA, misalnya, menggunakan teknologi AR untuk memperkenalkan produknya. Hanya dengan memindai marker AR, konsumen bisa langsung melihat simulasi produk yang mereka inginkan. Bila sesuai, mereka kemungkinan besar akan membelinya. Dan, Majalah Marketeers mulai edisi Februari yang lalu juga menggunakan AR untuk menyajikan konten-konten yang lebih visual. Hanya dengan memindai sampul dan halaman bertanda AR melalui smartphone beraplikasi Blippar, Anda bisa melihat tayangan video atau animasi di dalamnya.

#100IdeSales


1

Volume Lebih, Lebih Enak.

Menawarkan produk dengan ukuran atau volumenya lebih besar merupakan pengertian strategi upsize. Dengan upsize ini, konsumen akan mendapatkan sesuatu yang lebih ketimbang ukuran normal atau reguler.
Carl’s Junior @carlsjrindonesia pernah melakukan hal ini. Resto burger premium asal California ini pernah menggelar promo free upsize dari combo small ke medium atau dari medium ke large burge. Tapi, program ini dilakukan dengan kolaborasi dengan brand lain, seperti Kartu Kredit BCA dan Flazz.

#100IdeSales


1

Mengubah Pendirian, Menambah Pendapatan.

Menawarkan beberapa nilai lebih dari sebuah produk ketimbang produk lain merupakan kunci dari penjualan sistem up selling. Di sini, konsumen ditawarkan produk lain yang memiliki kelebihan – bisa dari sisi manfaat, fitur, ketahanan, dan sebagainya – ketimbang produk lain.
Misalnya, Anda sedang mencari sebuah laptop merek A dengan spesifikasi tertentu. Sesampainya di outlet, penjaga toko menawarkan laptop B yang memiliki keunggulan lebih, fitur yang lebih cocok dengan kebutuhan Anda, meskipun harganya sedikit berbeda. Karena Anda merasa laptop B lebih memiliki value yang dicari, Anda akhirnya memutuskan membeli untuk produk yang lebih mahal.

#100IdeSales


0