Solopos dot Com@solopos_com

📃 Official Instagram website berita Solopos.com
🏢 Griya Solopos (lt. 3) Jl. Adisucipto 190, Karangasem, Laweyan, Solo, Jawa Tengah 57145

http://m.solopos.com/

165 posts 533 followers 8 following

Pagi-pagi belajar sejarah seputar bangunan kuno di Kota Solo. 103 Tahun Bioskop Solo. Lengkapnya di #espospedia #soloposdotcom geser lebih lengkap.
#sejarah #kotasolo #bangunankuno #bcbsolo #infosolo #soloinfo #soloupdate #updatesolo #solohistoria #historia #history #solo


1

5 "Monster" akibat kegagalan operasi plastik. Apa saja cek di #espospedia #soloposdotcom. Geser lebih lengkap #datafakta #info #news #operasiplastik #oplas #serbalima


0

Ambruknya selasar Gedung BEI memunculkan beberapa spekulasi kejanggalan. Apa saja? Cek di #espospedia #soloposdotcom #info #solo #bursaefekindonesia #update #solo #kotasolo #soloraya #jakarta #tragedibei


0

Yup buat nambah2 wawasan nih cek #espospedia #soloposdotcom. Inilah 5 ponsel pemecah rekor dunia. #serbalima #datafakta #ponsel #smartphone #quinessbookofworldrecords


0

Program RTLH di Boyolali mulai digelar. Cek seluk beluk program ini di #espospedia #soloposdotcom #boyolali #infoboyolali #boyolaliupdate #pemkabboyolali


0

Atlet berprestasi PB Djarum selama 2017. #soloposdotcom #olahraga #bulutangkis #prestasiindonesia


2

Foto: Nicolous Irawan/Solopos

Polisi, TNI, dibantu warga memasang garis polisi di dekat tembok bangunan bekas sentral listrik yang roboh di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Senin (15/1/2018) malam. Menurut warga tembok bangunan cagar budaya (BCB) tersebut roboh sekitar pukul 19.15 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. 
#infosolo #soloupdate #keratonsolo #kratonsolo #kotasolo #solo #soloinfo


0

Foto: Nicolous Irawan/Solopos
Tembok Keraton Solo sisi barat Depan Suryamijayan atau bekas Ndalem Prabuwinatan, Senin (15/1/2018) malam runtuh. #soloposdotcom #soloupdate #soloinfo #infosolo #soloinfo #keratonsolo #solo #kotasolo


0

Solopos.com, KLATEN — Di Kecamatan Pedan, Klaten tidak ada dukuh bernama Pedan. Lazimnya, nama kecamatan diambil dari sebuah nama dukuh atau desa setempat.

Nama Pedan sendiri berasal dari sebuah kisah hidup Pangeran Pranowo, seorang pelarian kerajaan Majapahit pada abad XIII. Saat itu, ajaran Islam masuk ke tanah Jawa dan terjadi pertentangan dengan pemeluk Hindu yang banyak dianut orang-orang Majapahit.

Pangeran Pranowo beserta keluargala dan sahabatnya lantas mengungsi ke daerah pinggiran untuk menghindari konflik. Di kawasan itu mereka bercocok tanam sayuran dan palawija untuk kebutuhan sehari-hari layaknya rakyat jelata.

Pangeran Pranowo pun menanam sebuah pohon beringin untuk berteduh seusai bekerja. “Lambat laun kawasan itu jadi ramai sebagai tempat transaksi sayuran atau janganan. Pohon beringin itu pun kini dikenal sebagai Beringin Janganan,” kata Widodo, Sekretaris Desa Sobayan, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Rabu (3/1/2018). Ramainya kawasan itu tak membuat senang hati Pangeran Pranowo. Ia justru cemas persembunyiannya selama ini terbongkar. Di tengah kegalauannya, ia memutuskan untuk melanjutkan penyamarannya dengan cara bertapa seraya menjemur diri layaknya orang gila. “Setiap hari ia menjemur dirinya di tengah-tengah keramaian atau pepe dalam bahasa Jawa. Ia lalu dikenal sebagai orang gila atau istilahnya edan. Kebiasaan berjemur itulah yang lantas orang-orang menyebut diringa Kiyai Pepe atau Mbah Pepe,” terang Widodo.

Saat dirasa penyamarannya berhasil, suatu hari Pangeran Pranowo berujar bahwa jika daerah ini suatu saat menjadi ramai, daerah ini dinamai Pedan. Pedan berasal dari kari kata pepe artinya berjemur dan edan artinya gila. Pepe dan edan adalah strategi sang pangeran untuk menyembunyikan identitasnya saat itu.

Lebih lengkap klik link bio

#asale #asalusul #soloposdotcom #info #klaten #infoklaten #klatenupdate #news #berita #beritaklaten #updateklaten #exploreklaten #infocegatanklaten


0

Solopos.com, SOLO – Video viral menampilkan bocah laki-laki berjoget di hadapan biduan dangdut mengundang kecaman warganet. Bocah tersebut tampak diberi uang kemudian berjoget dan menyawer biduan dangdut berbaju seksi.

Saat ditelusuri Solopos.com, Minggu, (14/1/2018), video tersebut diunggah di grup Facebook Canda dan Obrolan Pekalongan oleh pengguna akun Arroub Pattih. “Ini akanya siapa ya?” tulis Arroub Pattih, Jumat (12/1/2018). Dalam video tersebut tampak sang biduan dangdut memakai kaus hitam ketak dan celana jin ketat. Di depan sang biduan ada bocah laki-laki yang berjoget layaknya orang dewasa. Si bocah membawa beberapa lembar uang saweran. Ada momen-momen saat sang biduan menghadapkan pantatnya ke kepala si bocah yang disambut dengan si bocah menyebar uang ke arah si biduan.

Sempat beberapa kali si bocah didekati perempuan berjilbab. Seolah-olah diperintah untuk melakukan sesuatu. Di sekeliling sang biduan dan bocah tersebut ramai orang-orang dari anak-anak hingga dewasa menonton aksi tersebut.

Saat dipantau Minggu malam pukul 20.30 Wib, video tersebut sudah dibagikan ulang lebih dari 114.000 kali. Warganet yang menonton video tersebut menilai hal tersebut tidak sepatutnya dilakukan oleh bocah sekecil itu. “Nontonnya malah tidak lucu, miris, anak zaman now,” tulis Karima Al Nabhan. “Padahal yang tua-tua itu pada pakai jilbab,” sindir Anjani Mulyati.

Selengkapnya: klik link bio

#viral #soloposodotcom #info #berita #news


0

Solopos.com, BOYOLALI – Korban dugaan penipuan multi level marketing (MLM) Q-Net di Boyolali belum kunjung mereda. Setelah terjadi di Simo, Banyudono, Mojosongo, Andong, dan Ngemplak, kali ini kembali terjadi di wilayah Kecamatan Teras.

Kapolsek Teras, AKP Ahmad Nadiri, mengungkapkan ada belasan remaja yang sempat diamankan di Mapolsek Teras. Mereka mengaku dijanjikan bekerja di usaha bisnis MLM bernama Q-Net. “Mereka datang ke sini [Mapolsek Teras] untuk mengadukan nasibnya. Sampai kami ngopeni mereka, dan beri makan, kasihan mereka ini. Anak-anak remaja dari jauh-jauh, tapi ke Boyolali hanya jadi korban penipuan,” jelas Nadiri kepada Solopos.com, Selasa (2/1/2018). Nadiri mengungkapkan, rata-rata korban dugaan penipuan Q-Net adalah warga luar Boyolali. Ada yang dari Magetan, Pacitan, Indramayu, dan Jawa Tengah. Mereka mengaku sudah mengeluarkan uang cukup banyak untuk bisa diterima kerja di Q-Net.

Namun, setelah mengeluarkan uang, mereka malah telantar. “Ada yang sampai menggadaikan sepeda motor pula. Sebagian kami minta orang tuanya dan pacarnya untuk menjemput,” jelasnya.
Lebih lengkap: klik link bio

#polresboyolali #boyolalinfo #boyolaliupdate #boyolali #soloposdotcom
#infoboyolali #news #update


0

Loading...